Opel Blazer Tua

Entah knapa, di tengah ke-terngantuk-an di jalan tol 4 jalur menjelang pintu tol cawang.
Saya terbangun, melihat keluar jendela. Tiba- tiba saja mata saya tertumbuk pada sebuah mobil sedan tuaaaa, mereknya tempelan: logo opel plus tulisan blazer (e-nya bener-bener dua looh)..
Membuat saya berfkir keras, apa ada molbil opel bermerk blazeer, dan kalau ada hrsnya bagaimana bentuknya.
Yg jelas rasanya jauh dr tampilan sedan ini deh, warna biru metalik hasil puluhan kall timpa cat, penyok di sana sini, berkarat dan berlubang di berbagai sisi. Jelas tanpa AC di siang hari yg panas itu. Penuh pula penumpanghya.


Tapi Coba lihat wajah2nya. Mereka ber enam, pengemudinya, lelaki usia 35-an, berjanggut tapi wajahnya bersih, di sebelahnya, mungkin ayah atau pamannya, sedang menatapnya sambil berbincang riang. Di bangku belakang, tampak istrinya dengan 3 anak lelakinya. Menikmati perjalanan itu.
Sementara, di kiri dan kanan-nya mobil-mobil keluaran terbaru terus menyalip dengan ganas, seakan sebel debgan keberadaan mobil lelet di tengah-tengah jalan


Pemandangan itu- ntah kenapa-seakan menohok saya di dada.

Teringat betapa belakangan ini saya terlalu sering melihat ke atas, sibuk berfikir betapa banyaknya langit di atas saya, terkadang menyesal, kenapa saya ada di langit yang ini, bukan yang itu, langit yang jauh berlapis -lapis di atas yang terlihat begitu cermelang.
Teringat kadang saya merasa iri dan cemburu. Merasa malu dan tersisih dengan kondisi ini. Sibuk berfkir apa yang musti saya lakukan untuk dapat naik memanjat langit-langit itu satu demi satu. Sampai-sampai saya lupa menunduk.. Saya lupa bahwa langit saya bukan lah yang teburuk.Masih banyak langit lain di bawah saya. Alangkah khilanya saya. Saya hanya ingat meminta sampai lupa bersyukur. Hanya ingat nafsu sampai lupa betapa beruntungnya saya.


Saya palingkan kepala jauh ke belakang jendela, ingin melihat mobil sedan tua itu sekali lagi. Terseok-seok menyusuri jalan tol, khawatir ada yang tidak sengaja terlepas satu demi satu..
Tersenyum saya pada mereka
penumpangnya..Yang tampak berbesar hati dengan semua yang dimilkinya. Alangkah indahnya ketika kita masih bisa mensyukuri semua apa yang kita punya.. berhenti mengeluh untuk sesaat..Dan menikmati semua apa adanya.
Hari itu saya berterimakasih pada si mobil tua.

Hari itu hari yang indah. Karena setelahnya saya menjalani semuanya apa adanya, menikmati semua sebagaimana mestinya.. Tidak berkhayal, tidak berbohong, tidak khawatir dengan apa pandangan orang terhadap saya. Berhenti sejenak dari memikirkan semua harapan dan impian yang sifatnya kadang duniawi sekali.

Hari itu lelaaah sekali.. Tapi nikmat saja rasanya, karena sekali lagi, saya sedang sangat ikhlas. Ntah sampai kapan bisa bertahan. Karena terlalu banyak godaan yang gampang membuat saya lupa, kalau saya tuh beruntung banget sebenarnya..

Write on: 2016

Random thougt of the day…

Did you know the feeling blue out of the blue..

have no explanation.. but feel terrible.. everything seems wrong, but there’s nothing to blame..

until someone came and said something, and it lit you up.. you smile for the first time throughout the day and make the rest of the day feel right and good..


If you have that one person… please be careful.. that person can turn your day up side down too.. 😅

Just a note…

ketika baterai hp sekarat

Dulu…

di jaman sebelum HP menjadi barang super penting, sebelum HP bisa jadi 1 barang dengan ribuan fungsi… handphone – sesuai namanya- adalah telepon yang bisa digenggam tangan. Fungsinya jelas untuk berkomunikasi, baik lewat suara atau pun pesan tertulis.. titik.. period. Itupun, hanya bisa pesan teks sesama provider. Lintas provider hanya bisa via telepon, dan biayanya super mahal.. – rasanya.

Nah, hari itu, saya pergi mengunjugi sahabat lama. Ditemani ying ying si mobil tua kesayangan, dompet isi SIM, KTP, kartu ATM, dan uang tunai 2.000 rupiah serta HP ericson flip pemberian papa. Perjalanan jauh, karena si sahabat saya itu rumahnya di ‘ujung dunia’ butuh 1 jam perjalanan dari rumah saya ke rumahnya. Untuk kota Bandung jaman itu, perjalanannya setara dengan 25 Km, dan saya ga tau pastinya rumahnya dimana, didalam komplek perumahan yang cukup besar dan padat. Yang pasti, belum ada yang namanya google map yes..

Akhirnya, teman saya memandu saya via telp, percakapan telpon 15 menit an.. sehingga saya sampai dengan selamat di rumahnya. Singkat cerita, saya pulang.. diperjalanan, melewati bypass – jalan lingkar luar kota Bandung, si yingying tiba-tiba melambat.. tidak bertenaga, sebelum akhirnya mati total.. untungnya saya berhasil kepinggir jalan.

Kebingungan, mencari pertolongan, hanya 1 orang yang terlintas dikepala, dan saya tau dia bisa diandalkan.. siapa lagi kalau bukan Nelly – almh adik saya. Saya lihat baterai hp super sekarat dan pulsa hanya bisa untuk melakukan 1 sms. Uang jelas hanya 2000 dan tidak ada atm didekat situ. Akhirnya saya membuat SMS yang saya kirim ke Nelly, isinya:

“mobil uni mogok di bypass di…. hp abis baterai, ga ada pulsa. Send help!”

sudah, hp nya mati, saya pergi ke warung dekat situ, beli teh botol harganya 750 rupiah *kebayangkan jaman kapan itu… terus menunggu dengan sabar dan yakin. Lamaaa… kemudian, datanglah bapaknya pacar Nelly… sendirian… bukan pacarnya, apalgi nelly-nya.. astaga.. dan membantu saya, ternyata hanya platinanya saja yang kotor, sekejap mobil saya sudah bisa jalan lagi… terimakasih ya Pak…

Begitulah, ketika itu… jaman sekarang mungkin tidak bisa terbayang, hanya 1 pesan, tanpa tau jawabannya, tanpa kepastian, tapi saya yakin, 100% pertolongan akan datang. Teknologi hanya ada itu, kemampuan hanya segitunya…

hikmahnya? jangan lupa isi pulsa, jangan lupa cas HP, jangan ga bawa uang sama sekali ketika bawa mobil, jangan lupa tune up mobil and have faith to someone 🙂

Si hp jadul tapi mumpuni