the power of touching

Malam ini, seperti biasa kami tidur berpelukan… dengan frekuensi pertemuan yang jarang, kegiatan sederhana ini rasanya besar sekali artinya. Di hari-hari dimana abi tidak ada, biasanya saya tidur memeluk Aza, atau seringkali juga saya terbangun malam hari dan menemukan Aza sedang memeluk saya.

Dan ketika kami sedang berkumpul bertiga, tentu saja berpelukkan (seperti teletubies) itu menjadi ritual yang tidak pernah direncanakan tapi ternyata amat menyenangkan – menenangkan, melenyapkan semua letih, memberi semangat baru, dan menyenyakkan tidur…
Ternyata memang sentuhan itu memiliki kekuatan yang tak terbayangkan..
Pernah menonton iklan Jhonson & Jhonson? Tentang bayi prematur yang cepat pulih setelah secara rutin di pijat? Dan itu benar adanya…
Banyak sekali literatur yang menyatakan betapa kuatnya arti sebuah sentuhan. Tidak saja untuk bayi yang baru lahir atau anak-anak, orang dewasa dan lansia pun sangat membutuhkan sentuhan. Apabila satu sentuhan berarti banyak apalagi satu pelukan dengan lebih banyak area kulit yang tersentuh……
Hanya dengan merasakan saja saya tahu besarnya arti pelukan…

Pernah saya baca di suatu tempat, bahwa setiap orang butuh minimal 4 pelukan per harinya untuk dapat bertahan hidup. Entah benar atau tidak, tapi saya akan memastikan anak saya mendapat lebih dari itu perharinya. Ketika saya memeluknya, tidak hanya dia yang tampak begitu damai dan tenang, saya pun merasakan aliran cinta yang tanpa batas dari dan untuk dia..
Begitu pula dengan suami, walaupun kami jarang bertemu, dan kami bukan juga sepasang manusia romantis yang selalu bergandengan tangan kemana-mana – lagian dengan adanya Aza, rasanya sulit bergandengan kalau harus selalu mengejar-ngejar balita yang sangat aktif bergerak – maka pelukan panjang di malam hari mampu menghapus semua penat, semua tanya, dan menambah keyakinan akan cinta kami satu sama lain.

Lagi pula, dengan 8 pelukan sehari, maka seseorang dapat tetap sehat, dan ditambah 4 lagi, jadi 12 pelukan akan membuat awet muda… sungguh murah dan mudah… katanya manfaatnya hampir sama dengan jalan kaki, meningkatkan keseimbangan tubuh, kesehatan, dan mengurangi tingkat stres,bisa melancarkan aliran darah yang berdampak pada turunnya tekanan darah yang tinggi.

Sayangnya walaupun teorinya begitu mudah dan murah, tapi pada prakteknya, memeluk dan dipeluk seseorang tidaklah semudah itu. Budaya di keluarga saya dulu, orang tua adalah seseorang yang sangat dihormati, sehingga jangankan memeluk, sentuhan yang diizinkan biasanya hanya mencium tangan orang tua atau sampai cium pipi kiri dan cium pipi kanan. Jadi, walaupun sekarang saya tahu manfaatnya, tapi untuk melakukannya untuk orang2 terdekat saya selain Aza dan Abi, kok rasanya….. Bigimana gitu ya…

Untungnya, ada Aza… Aza tumbuh sebagai seorang anak yang suka memeluk dan dipeluk, sehingga baginya mudah saja memeluk orang bahkan yang baru dikenalnya sekalipun… jadilah Aza sebagai penjembatan antara saya dan orang-orang yang sungkan saya peluk.. 😀

So…
Setiap saya di kantor, walaupun hanya 8 jam, rasanya selalu rindu pada Aza, rindu pelukannya, yang tulus – unconditional love – begitu pula dengannya… sungguh ritual yang indah…
Begitu pula dengan abi… pelukan seperti makanan bagi rasa rindu kami… penghapus segala keraguan ketika lama terpisah..

Me Time

Pastinya pernah dengar tentang Me Time…

Rasanya saya pertama kali ngeh tentang me time ketika menonton satu reality show yang dibesut oleh Oprah, tentang pertukaran dua orang perempuan yang sudah menjadi istri dan ibu.

Perempuan pertama, adalah seorang istri petani sederhana yang memiliki 3 anak. Sehari-hari ibu ini harus bangun pagi-pagi sekali dan mulai bekerja di peternakan dan pertaniannya. Memasak, membersihkan rumah, mengurus anak-anaknya, juga dia yang mengerjakan sendiri. Hari-harinya dipenuhi dengan bekerja-bekerja-dan bekerja, dari dini hari sampai seluruh keluarganya pergi tidur.

Perempuan kedua, adalah seorang istri pengusaha kaya, hidup di kalangan jetset, memiliki 3 anak dan 3 maid yang aplusan setiap 8 jam sekali. Sementara si ibu sibuk berbelanja dan merawat diri atau bersosialisasi dengan teman-temannya di siang hari, dan malam hari si istri ini akan sibuk mendampingi suaminya hadir ke pesta-pesta kalangan jet set atau membuat social party-nya sendiri.

Perempuan ini yang sering sekali melontarkan perkataan me time. Dia mendefinisikan me time adalah waktu yang dihabiskan-nya sendiri  seperti untuk berbelanja gila-gilaan, merawat diri yang menghabiskan uang sampai ribuan dollar, begitulah konsep me timenya dan dia mengucapkannya dengan lantang dan berulang-ulang sampai membekas di kepala… 🙂

Bagaimana ceritanya ketika mereka bertukar posisi, bertukar suami, bertukar anak-anak, rasanya bukan inti tulisan ini ya.. 🙂 *tp klo penasaraan ntar saya ceritain deeeeh…

Bagi saya, me time adalah satu konsep yang perlu sekali diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, apalagi ketika sudah berkeluarga.

Me time sendiri bagi saya adalah satu konsep kegiatan yang dilakukan, dinikmati, diusahakan, hanya untuk kepentingan kita sendiri. Fungsinya adalah untuk membuat kita senang, dalam bentuk apa pun itu. Hasilnya semestinya positif bagi diri kita, membuat kita kembali refresh, membuat kita kembali segar, yang dampaknya kita akan menjadi a better person buat orang-orang disekeliling kita.

Me time, kalau bagi saya, berbeda jauh dengan menghabiskan waktu bersama keluarga, apalagi kalau konsepnya liburan bersama keluarga, karena… siapa bilang menyiapkan liburan bersama keluarga atau sekedar menghabiskan waktu bersama keluarga itu tidak stress free??

Jadi konsep me time buat saya harus lah sesuatu yang sederhana, tidak ribet pelaksanaanya, tidak perlu pake perencanaan, jelas-jelas saya sukai banget, tidak butuh modal besar, tapi hasilnya mesti ok banget.

Agak kontradiksi, tapi sebenernya kalau persyaratan yang satu ini terpenuhi, pasti hasilnya ok.. Syaratnya: ga ada yg ganggu! Ga ada suami yang iseng minta ditemenin nonton, ga ada anak yang lg pengen leyeh-leyeh di pelukan, ga ada kerjaan dari kantor yang ngegantung di kepala, ga ada yang kaya-kaya gitu walaupun itu juga bukannya ga menyenangkan..

Me time saya sederhana, misalnya baca novel tebal sampai habis sekali baca… *paling ga butuh waktu 3-4 jam kan… atau jalan-jalan sendiri nyetir mobil – bertujuan – tapi ga dikejar-kejar waktu, dan tujuannya juga simple-simple aja, misalnya naro baju di laundry, ato pergi ke rumah temen mamah yang jauh di ujung bandung untuk ngambil titipannya.. Atau nonton serial fave di tv, atau main game komputer, dan berhenti hanya klo matanya udah cape, atau berenang ama temen-temen, atau minum kopi sambil keketawaan dengan sahabat-sahabat lama, atau tentu saja mempercantik diri sendiri… potong rambut dan cat rambut misalnya… dan yang paling simpel tapi juga paling susah dapetnya, adalah ketika saya sedang sendirian, duduk, klo bisa di ketinggian, di sore hari, ketika baru selesai turun hujan, masih ada sedikit matahari, dan saya bebas berfikir bebas melamun bebas berkhayal… sambil menghirup bau tanah yang baru terkena air hujan, mendengarkan suara mobil lalu lalang *hihihi saya mah bukan tipe orang yang suka jauh dari keramaian..

So simple tapi juga sangat susah dilaksanakan… ga pernah dapet timing yang pas.

Jadi, dari semua di atas, konsep me time buat saya, adalah sesuatu yang simple tapi ga gampang mendapatkannya.

Dan terus terang aja, saya sudah lupa kapan terakhir saya mendapatkan me time saya….

Cita-cita

Pertanyaan favorit orang dewasa yg diajukan kepada anak kecil :

pertama: “namanya siapa ?”,

kedua: “udah sekolah belum?”,

Dan nanti dipertanyaan kelima atau keenam, biasanya muncul pertanyaan kojo itu, “ntar kalo udah gede mau jadi apa?”

Sejak TK, untuk pertanyaan yang satu ini,  saya selalu menjawab dengan lantang, mau jadi arsitek.. Dan whola.. Itu yang terjadi sekarang.. Bener-benar cita-cita yang tercapai.. Hihihi

Cita-cita, keinginan, harapan, mimpi, dan sejenisnya, bagi saya sama saja, walaupun banyak juga orang yang mengklarifikasikannya berbeda-beda. Semuanya merupakan satu bentuk pengharapan yang bisa diusahakan untuk menjadi kenyataan, atau sekedar pengharapan saja yang tidak perlu diwujudkan sama sekali.

Tadi sudah saya katakan, cita-cita saya adalah menjadi seorang arsitek, dan sudah tercapai, tapi tentu saja, ketika itu, dan seiring perjalanan waktu, saya juga punya banyak keinginan, mimpi, harapan yang lain.. ada yang serius banget, ada yang  menghantui saya sepanjang hidup, ada yang sudah tercapai, ada yang hampir tercapai, ada yang hanya sekedar ingin karena lihat punya orang lain.. Bahkan tidak sedikit juga yang merupakan khayalan, karena memang tidak akan pernah mungkin tercapai.

Pernah saya punya khayalan untuk menjadi seorang manusia super.. Pastinya karena kebanyakan nonton Gaban, Voltus, dan sebangsanya.

Pernah juga saya ingin menjadi guru, pasti karena melihat mama saya yang memang seorang guru. Enak benar menjadi guru, semua kata-katanya didengar dan dituruti…

Atau menjadi pianis terkenal, padahal jelas-jelas saya tidak bisa main piano.. Halah…

Tapi banyak juga keinginan saya yang sederhana saja.. Misalnya saya ingin bisa pulang tepat waktu terus minggu ini, supaya punya banyak waktu  buat main ama aza..

Dulu, ketika saya umur 4, saya punya teman khayalan, namanya Uu, (tdk terlalu kreatif ya namanya ;p) karena waktu itu adik saya masih keciiil sekali, tetangga saya sudah agak besar dan sudah mulai bermain berkelompok dan karena semua orang dewasa di rumah saya pun cenderung sibuk sendiri, dan tentu saja saya tidak diberi fasilitas nany yang 24 jam stand by untuk menemani saya.. 🙂

Uu ini, saya tidak tahu pasti apa jenis kelaminnya,  tapi yang jelas dia selalu ada untuk saya, untuk ngobrol, bermain, dan semuanya…

Teringat satu kejadian bersama Uu.. Saya sedang duduk di atas tempat tidur berbincang-bincang dengan Uu.. Lalu kami berdua berencana pergi memancing (tentu saja kolam khayalan), kami turun dari tempat tidur dan berjalan mundur (rupanya begitulah cara memancing versi saya), sambil berjalan, kami asyik berbincang.. Saya tidak memperhatikan arah jalan saya, sampai tiba-tiba, dibelakang ada ember air kotor sisa mengepel lantai, dan tanpa ayal saya menabraknya dan masuk dengan seluruh tubuh ke dalam ember, terduduk..

Etek  (tante saya) yang baru saja memandikan saya, langsung marah besar… 🙂 dan dia tidak mau mendengar sedikitpun alasan saya, bahwa saya hanya diajak oleh Uu…

Walaupun saya masih keciil sekali, saya sudah tau kalau Uu ini hanya khayalan… tapi rasanya nyaman sekali memilikinya. Karena pada umur 4 itu, saya sudah punya adik, dan sudah mulai terjadi hal-hal seperti ini,

“kamu kan kakaknya,harus sayang dong ama adik, ayo ngalah!” atau “kamu harus bisa kasih contoh dan bisa ngajarin adiknya, ayo bilang ke adiknya ga boleh seperti itu” intinya, sejak saat itu, saya mengenal arti tanggung jawab seorang kakak. Apalagi, semua orang sepertinya sibuk sekali, sehingga saya dituntut untuk bisa selalu mandiri, dan juga mengawasi adik saya..

Walaupun Uu akhirnya lama-lama hilang, saya tidak dapat melupakan nyamannya memiliki seseorang seperti Uu saat itu.. Yang dalam benak saya, Uu itu memiliki gambaran sebagai orang yang lebih tua dari saya, mampu ngemong saya, memiliki fungsi yang sama seperti saya terhadap adik-adik saya, dan juga senang bermain bersama saya, dan yang paling penting, tidak mengharapkan timbal balik apa pun dari saya.. (apa sih yang perlu saya lakukan untuk seorang teman khayalan… )

Rasanya nyaman ketika sebagian tanggung jawab ada yang turut menanggung. Seseorang yang mampu meredakan rasa lelah, menyamankan rasa di hati, menjadi tempat bersandar dan mengadu.

Jadinya dari dulu sampai sekarang, tinggal satu itu keinginan yang selalu menghantui saya… karena sosok seperti itu sepertinya terlalu baik untuk menjadi nyata. Walaupun ada, biasanya selalu punya pamrih.