Pertanyaan favorit orang dewasa yg diajukan kepada anak kecil :
pertama: “namanya siapa ?”,
kedua: “udah sekolah belum?”,
Dan nanti dipertanyaan kelima atau keenam, biasanya muncul pertanyaan kojo itu, “ntar kalo udah gede mau jadi apa?”
Sejak TK, untuk pertanyaan yang satu ini, saya selalu menjawab dengan lantang, mau jadi arsitek.. Dan whola.. Itu yang terjadi sekarang.. Bener-benar cita-cita yang tercapai.. Hihihi
Cita-cita, keinginan, harapan, mimpi, dan sejenisnya, bagi saya sama saja, walaupun banyak juga orang yang mengklarifikasikannya berbeda-beda. Semuanya merupakan satu bentuk pengharapan yang bisa diusahakan untuk menjadi kenyataan, atau sekedar pengharapan saja yang tidak perlu diwujudkan sama sekali.
Tadi sudah saya katakan, cita-cita saya adalah menjadi seorang arsitek, dan sudah tercapai, tapi tentu saja, ketika itu, dan seiring perjalanan waktu, saya juga punya banyak keinginan, mimpi, harapan yang lain.. ada yang serius banget, ada yang menghantui saya sepanjang hidup, ada yang sudah tercapai, ada yang hampir tercapai, ada yang hanya sekedar ingin karena lihat punya orang lain.. Bahkan tidak sedikit juga yang merupakan khayalan, karena memang tidak akan pernah mungkin tercapai.
Pernah saya punya khayalan untuk menjadi seorang manusia super.. Pastinya karena kebanyakan nonton Gaban, Voltus, dan sebangsanya.
Pernah juga saya ingin menjadi guru, pasti karena melihat mama saya yang memang seorang guru. Enak benar menjadi guru, semua kata-katanya didengar dan dituruti…
Atau menjadi pianis terkenal, padahal jelas-jelas saya tidak bisa main piano.. Halah…
Tapi banyak juga keinginan saya yang sederhana saja.. Misalnya saya ingin bisa pulang tepat waktu terus minggu ini, supaya punya banyak waktu buat main ama aza..
Dulu, ketika saya umur 4, saya punya teman khayalan, namanya Uu, (tdk terlalu kreatif ya namanya ;p) karena waktu itu adik saya masih keciiil sekali, tetangga saya sudah agak besar dan sudah mulai bermain berkelompok dan karena semua orang dewasa di rumah saya pun cenderung sibuk sendiri, dan tentu saja saya tidak diberi fasilitas nany yang 24 jam stand by untuk menemani saya.. 🙂
Uu ini, saya tidak tahu pasti apa jenis kelaminnya, tapi yang jelas dia selalu ada untuk saya, untuk ngobrol, bermain, dan semuanya…
Teringat satu kejadian bersama Uu.. Saya sedang duduk di atas tempat tidur berbincang-bincang dengan Uu.. Lalu kami berdua berencana pergi memancing (tentu saja kolam khayalan), kami turun dari tempat tidur dan berjalan mundur (rupanya begitulah cara memancing versi saya), sambil berjalan, kami asyik berbincang.. Saya tidak memperhatikan arah jalan saya, sampai tiba-tiba, dibelakang ada ember air kotor sisa mengepel lantai, dan tanpa ayal saya menabraknya dan masuk dengan seluruh tubuh ke dalam ember, terduduk..
Etek (tante saya) yang baru saja memandikan saya, langsung marah besar… 🙂 dan dia tidak mau mendengar sedikitpun alasan saya, bahwa saya hanya diajak oleh Uu…
Walaupun saya masih keciil sekali, saya sudah tau kalau Uu ini hanya khayalan… tapi rasanya nyaman sekali memilikinya. Karena pada umur 4 itu, saya sudah punya adik, dan sudah mulai terjadi hal-hal seperti ini,
“kamu kan kakaknya,harus sayang dong ama adik, ayo ngalah!” atau “kamu harus bisa kasih contoh dan bisa ngajarin adiknya, ayo bilang ke adiknya ga boleh seperti itu” intinya, sejak saat itu, saya mengenal arti tanggung jawab seorang kakak. Apalagi, semua orang sepertinya sibuk sekali, sehingga saya dituntut untuk bisa selalu mandiri, dan juga mengawasi adik saya..
Walaupun Uu akhirnya lama-lama hilang, saya tidak dapat melupakan nyamannya memiliki seseorang seperti Uu saat itu.. Yang dalam benak saya, Uu itu memiliki gambaran sebagai orang yang lebih tua dari saya, mampu ngemong saya, memiliki fungsi yang sama seperti saya terhadap adik-adik saya, dan juga senang bermain bersama saya, dan yang paling penting, tidak mengharapkan timbal balik apa pun dari saya.. (apa sih yang perlu saya lakukan untuk seorang teman khayalan… )
Rasanya nyaman ketika sebagian tanggung jawab ada yang turut menanggung. Seseorang yang mampu meredakan rasa lelah, menyamankan rasa di hati, menjadi tempat bersandar dan mengadu.
Jadinya dari dulu sampai sekarang, tinggal satu itu keinginan yang selalu menghantui saya… karena sosok seperti itu sepertinya terlalu baik untuk menjadi nyata. Walaupun ada, biasanya selalu punya pamrih.