Hampir sebulan lewat Nelly pergi..
Dan tulisan ini belum selesai juga…
Alangkah sulitnya… melepas seseorang yang sedari dalam kandungan sudah saya kenal baik..
Seseorang yang setiap hari mengisi relung hati.. Sejak tangisnya memecah hening di dini hari ketika ia lahir sampai ketika hembusan terakhir nafasnya pelan meninggalkan fana untuk selamanya..
Nelly, yang saya kenal hanya 29 tahun, karena memang hanya sampai situ usianya. Masih segar terbayang.. Ketika terjadi kehebohan di rumah malam itu… Mamah sudah mau melahirkan.. Sepertinya tidak mungkin mamah di antar naik vespa ke bidan. Untung tetangga sebelah rumah baik hati mengantar mamah dan papah naik mobilnya..
Saya memandang nanar dari balik horden jendela.. Setengah tak mengerti apa yang terjadi..
3.9 tahun usia saya saat itu.. Tapi semuanya masih segar terbayang seperti baru kemarin sore…
Beberapa hari kemudian.. Saya ingat sedang berpose di sebelah mamah yang mengendong bayi merah berbedong rapat dipelukan… saya berpura-pura sedang memegang kepala si adik yang belum bernama itu… tanpa senyum tanpa ekspresi.. Saya masih tidak mengerti maksud semuanya.
Saya teringat ketika menemani mamah menjemput Nelly di TK… untuk anak usia 5 tahun… Nelly besaaaar sekali.. Lebih tinggi, lebih bongsor dari teman-teman seusianya… suaranya terdengar sampai keluar kelas.. Sedang bercerita, sedang bernyanyi, sedang berdoa… Nelly memang selalu menonjol…
Teringat ulang tahunnya yang ke enam.. Nelly memakai gaun ungu seperti putri.. Dengan rambut diikat dua, meniup kue ulang tahunnya… cantik sekali… nelly suka sekali gaun itu… saya juga suka.. Tapi kali ini mamah membelikan saya gaun putih berbunga merah… untuk ulang tahun saya yang ke 10.
Tidak kembaran seperti biasanya… 🙂
Teringat kado yang didapatnya.. Sebuah boneka gendut yang sedang makan es krim.. Untuk menemani Kitti, boneka cantik berambut pirang ikal yang bisa bicara.. “hello, my name is kitty” sebuah mainan mewah untuk saat itu.. Dibelikan papah di Tanjung Karang, katanya barang import… sementara saya dibelikan mobil balap dengan track berbentuk angka delapan.. Sungguh mainan favorit… tidak seperti Nelly.. Saya benci boneka.
Teringat masa lalu.. Mamah selalu membelikan kami baju kembar.. Untuk lebaran, untuk baju bermain, bahkan untuk baju tidur pun… hanya beda ukuran dan beda warna saja… kami sukaa sekali memakai baju kembaran.. Mungkin karena kami bukan anak kembar ya…
Teringat acara bermain favorit kami… menyusuri jalan-jalan di komplek rumah kami dari ujung sampai ujung.. Tidak jauh.. Paling jauh 600 meter saja. Berakhir di taman milik seorang kaya, yang rumahnya tepat di pinggir sungai, dengan peliharaan unggas yang lengkap… kami suka sekali melihat burung-burung yang beraneka ragam itu.. Sepemilik rumah pun sepertinya tidak khawatir, membiarkan kami masuk lewat pagarnya yang terbuka…
Ketika pulang, kami bermain tebak-tebak-an berapa jauh kini jaraknya dari tempat mu berada sampai ke ujung jalan.. Tanpa sadar saya sedang mengajari Nelly persepsi tentang jarak dan hitung-hitungan matematika..
Atau bermain cerita-cerita-an… yang membuat kami sangat pandai berimajinasi…
Tanpa banyak buku cerita, tanpa harus kursus ini dan itu, tanpa terlalu banyak didampingi orang dewasa.. Kami berdua, dengan segala permainan yang kami ciptakan sendiri, tumbuh mejadi pribadi-pribadi yang sehat, ceria, dan selalu optimis menghadapi hidup…
Permainan lain yang menarik adalah bermain di rel kereta api.. Berbahaya sebenarnya kalau di ingat sekarang.. Tapi dulu, kereta lewat tidaklah sekerap sekarang.. Kami senang bermain keseimbangan di atas rel.. Atau menaruh uang logam di atas rel dan menunggu kereta lewat melihat uang logam itu tertanam di dalam rel…
Sampai pada suatu saat… ketika kami sedang menyusuri rel sebelah kiri, sementara di sebelah kanan sedang ada kereta berhenti mengambil penumpang, terdengar deru keras sekali.. Terhenyak kami menyadari bahwa ada kereta juga di rel yang sedang kami jalani. Tak tahu harus kemana, karena di kanan juga sedang ada kereta, kami melemparkan diri sejauh-jauhnya ke semak-semak dipinggiran rel.. Menunggu diam berdebar… ternyata lama tak kunjung lewat… rupanya itu bunyi deru pesawat di angkasa.. Terbahak kami berdua.. Sampai keluar air mata dan sakit perut.. Mentertawakan kebodohan sekaligus lega lepas dari ancaman…
Pernah pada suatu hari, kami sedang bermain berdua.. (kami selalu bermain berdua ketika kecil… kami bukan tipe nenangga, dan saudara-saudara kami yang seusia tinggal jauh sekali…) ceritanya, Nelly menjadi banteng dan saya menjadi matador.. (kami memang bisa bermain apa saja…). Sebagai banteng, Nelly harus mendengus sambil menggaruk-garukkan kaki depannya ke tanah.. Sambil mendengus-dengus… ternyata, karena sedang pilek, ingusnya pun turut keluar seperti balon, ketika dia mendengus.. Tak pelak kami pun tertawa terguling-guling…
Kami juga suka sekali bersandiwara, memainkan beberapa peran sekaligus dengan suara yang berbeda-beda, merekamnya dengan tape recorder, memakai kaset-kaset keroncong punya tante (kalau ketahuan pasti dimarahi), memakai efek-efek suara buatan sendiri.. (meniru efek pintu tua terbuka pelan-pelan, bunyi langkah kaki, sibakan rambut raksasa… dan lain-lain).. Dan seringkali sebelum selesai kami sudah tertawa terbahak-bahak, karena efek yang ditimbulkan berbeda dengan yang diharapkan…
Walaupun tak jarang kami berantem, tapi kami lebih sering bermain sampai terbahak-bahak.. Sampai-sampai mamah bilang, punya anak dua seperti punya anak sepuluh.. Sungguh suatu perumpamaan yang tak salah..
Pernah juga.. Ketika rumah kami sedang dibangun… mamah dan papah memberikan kami masing-masing kamar sendiri.. Walaupun ukurannya liliput banget, tapi kami bahagia banget.. Apa lagi untuk saya yang sudah mulai menginjak masa pubertas.. 🙂
Rasanya privacy tuh penting banget ya.. Apalagi dari Nelly yang selalu ingin tau apa sih yang dikerjain uni-nya…
Waktu itu, rumahnya masih setengah jadi.. Kamar kami sudah berbentuk walaupun masih berlantai tanah dan belum beratap. Kami sudah menentukan kamar mana untuk siapa. Kamar yang tengah, yang paling kecil untuk Nelly.. Dengan tabah dia menerima… (hehe). Kami sedang bermain petak umpet. Saya sedang bersembunyi di kamarnya Nelly yang belum berpintu.. Tabah karna tahu sebentar lagi akan ditemukan.. Benar saja, tak lama Nelly pun masuk ke dalam kamarnya.. Melihat sekeliling.. Dan anehnya, dia tidak melihat saya.. Padahal di kamar itu tidak ada apa-apa kecuali saya.. Bahkan pintunya pun belum ada.. Setengah takjub setengah tak percaya…. Sampai Nelly menyerah saya baru keluar… Nelly pun heran setengah mati.. Sampai sekarang, itu masih jadi misteri..
Dulu mamah dan papah selalu mengajak kami ke Pasundan Plaza setiap hari minggu. Setiap minggu setahun penuh… kami sungguh tidak bosan… kami senaaaang sekali.. Kegiatannya pun sama, berenang – tepatnya berendam (karena kami belum bisa berenang), main di kolam ombak tentu saja pakai ban, makan siang, lalu bermain sepeda roda tiga (kami juga belum bisa naik sepeda roda dua), selesai lalu pulang… sungguh hari minggu yang kami tunggu-tunggu…
Dalam perjalanan, di mobil kesayangan – si ying ying tercinta – kami berdua duduk dibelakang, menghadap ke kaca belakang, sibuk menggoda orang di mobil belakang, senang kalau mendapat respon.. Mengapa tidak, kami berdua memang anak-anak yang lucu dan manis.. 🙂
Teringat satu kejadian di Pasundan Plaza… kami sedang bermain di kolam ombak.. Nelly memakai ban, saya sedang gengsi, sehingga hanya duduk di pinggiran, dengan air semata kaki. Kolamnya tidak datar, tetapi melandai ke tengah, semakin ke ujung semakin dalam. Dari semata kaki sampai 4 meter.. Di ujung ada papan untuk loncat indah… dalam sekali sepertinya.
Tiba-tiba, tanpa mendengar adanya peringatan, kolam ombak beroperasi, pelan-pelan mesin mulai membuat ombak, saya yang sedang duduk manis dipinggiran lama-lama terseret ke tengah.. Panik melihat sekeliling.. Nelly jauh di tengah sedang menikmati ombak yang mulai terbentuk, mamah papah entah di mana, disebelah saya hanya ada seorang bapak-bapak berperut gendut bercelana pendek. Tanpa pikir panjang, saya pegang erat-erat celana pendeknya sampai ikut tertarik sedikit… bukannya menolong, bapak itu hanya melihat saya dengan sedikit takjub.. Kenapa ada anak kurus nyangkut di celananya.. Mungkin begitu.. Tapi yang penting saya selamat.. Dan ketika saya melihat Nelly.. Dia sedang terbahak-bahak tak tertahankan… terlepas dari panik, saya pun ikut tertawa lepas… memang kami sering sekali berbuat kebodohan yang memalukan, dan kami senang sekali mentertawakannya kemudian.
Bersama Nelly, memang selalu penuh canda dan tawa.. Walaupun kami juga sering berselisih pendapat, tetapi sungguh sulit diingat.. Sangking seringnya kami terbahak-bahak, tante selalu mengingatkan bahwa terlalu sering tertawa dapat membuat gigi menjadi tonggos… hahaha….
* to be continued