Guys in My Life

Papah… begitu saya panggil ayah saya…

Lelaki itu kini berumur 66 tahun, tapi masih segar dan aktif dalam kesehariannya.
Sifatnya yang paling dominan adalah SABAR, sesuatu – apalagi bagi laki-laki- yang sangat langka. Selain itu, papah adalah lelaki yang sangat taat menjalankan ibadahnya, bahkan sampai sekarang pun, beliau masih terus ‘bersekolah agama’ untuk memperdalam ilmu agamanya. Tujuannya menjadi ustad yang dapat dipertanggungjawabkan seluruh ucapan dan tindak tanduknya…

Papah memang sangat tidak dominan di rumah, sepertinya seluruh keputusan, seluruh pengaturan di rumah selalu dipegang oleh mama, dan papah sepertinya sangat menikmati pengaturan itu. Selama tidak ada yang melanggar agama, terserah mama saja… begitu mungkin prinsipnya…
Dulu saya sering heran… apa mama tidak cape ya? Mulai dari mengurusi keuangan rumah tangga, menentukan masak apa hari ini, sampai berusaha melakukan perbaikan rumah pun dilakukan sendiri…
saya sampai berharap, mudah-mudahan suamiku nanti bisa sama-sama sharing untuk urusan rumah tangga…

Tapi mama sih tidak berkeberatan.. Beliau bahkan selalu berkata (doa yang terselubung kah?) bahwa suami ideal adalah yang seperti papah, sudah sabar, penyayang, tidak pernah marah (ya iyalah, namanya juga sabar), dermawan, lucu, beriman, dan yang paling penting… amat sangat setia kepada keluarganya.

Walaupun memang, karena sifatnya yang lembut, kami anak-anaknya cenderung untuk mengabaikan perintahnya (ck ck.. Kacau ya…). Seumur hidupku yang udah masuk sepertiga abad ini, saya belum pernah dimarahi papah secara frontal, kecuali ketika saya terjatuh dari motor dan melukai betisku dengan luka bakar knalpot yang cukup parah…
Saat itu beliau dengan TEGAS minta saya berjanji untuk tidak pernah berusaha lagi belajar mengendarai motor… wah baru sekali itu saya liat papah begitu,saya langsung berjanji, walaupun setelah itu jadi kepikiran juga.. Bagaimana dengan niat belajar naik motor itu? Nanti kalau tiba-tiba saya diculik, terus satu-satunya transportasi yang tersedia untuk melarikan diri hanya motor… gimana tuh? HEHEHE…

Papah-ku ini memang cenderung manja… bertolak belakang dengan mama yang tipe wanita tegar dan mandiri… bagaimana ga manja kalau beliau ini anak bungsu dari 16 bersaudara… dari satu ayah dan satu ibu…hebat bener emang enin dan ngki-ku itu (ortunya papah)
Sejak kecil kehidupannya cenderung berkecupan, segala sesuatu biasanya lebih mudah didapat daripada tidak… tapi somehow kemanjaannya lebih menjadi cute daripada menyebalkan.

Satu hal yang sadar tidak sadar saya pelajari dari beliau adalah keyakinan bahwa seberat apapun suatu masalah, pasti ada jalan keluarnya. So ga perlu panik, ga perlu histeris, ga perlu heboh, setiap menghadapi suatu masalah… Tenang aja, hadapi dengan kepala dan hati yang dingin…
Percaya atau nggak…. It works!

Laki-laki kedua dalam hidup saya adalah suami saya… ABI, begitu saya memanggilnya
Abi, sama seperti papah, juga anak bungsu. Bedanya abi hanya bungsu dari 3 bersaudara. Saya mengenalnya sejak satu kelas di kelas dua SMA, walaupun sebenarnya kami sudah satu sekolah sejak SMP. Hubungan kami tidak selalu mulus-mulus saja… kami lebih sering berada dalam status berteman atau bahkan status quo dibandingkan dalam status berpacaran.. Maklum, umur segitu, masih penuh godaan.. Hahaha..

Setelah melalui lika-liku yang melelahkan dan meninggalkan beberapa orang yang patah hati (G.R banget ya…) kami akhirnya menikah dengan restu kedua orang tua kami.. (Alhamdulillah..).
Ternyata setelah menikah, saya yang terbiasa hidup dengan nahkoda yang sabar, pendiam, dan tidak banyak aturan.. sampai terkaget-kaget… karena Abi sepertinya adalah ‘semua kebalikan’ dari papah

Walaupun abi (suami ku) sifatnya 180⁰ kebalikan dari papah ku… (hehe sesuatu yang amat sangat disesali mama sepertinya…) tapi abi sangat mengidolakan papah ku… mengingat kalo dari skala 1 sampai 10, semakin besar semakin sabar, papah dapet nilai 9, suamiku dapet nilai 3… 😀 parah memang.

Dan dia berusahaaaa banget supaya bisa lebih sabar… tapi seperti kata orang… “seseorang masih dapat dirubah sifatnya sampai dia aqil baliq, sesudah itu kita hanya bisa nerima apa adanya”
Jadi kalo lagi inget, ya sabar banget… tapi kalo lagi keluar tanduknya.. Halah, disenggol dikit aja bisa meledak…

Tapi tetep suamiku ya suamiku… (Insya Allah, saya ama dia aja deh ampe seterusnya) dan papahku ya papahku… idola dan panutan saya…
Mereka berdua, pria dalam hidupku yang paling saya hormat dan cintai..
Deuh.. Kok jadi serius amat ya?

Yang terakhir (sampai saat ini) dan ketiga, laki-laki dalam hidup saya adalah AZA (Naufal Riza Chiaraza’im)
Dia adalah anak kami yang pertama dan sampai saat ini masih satu-satunya…
Walaupun baru 3 tahun, Aza membentuk kami berdua menjadi seperti sekarang… Kami berdua mempunyai sifat-sifat buruk yang kami satu sama lain sama-sama tidak bisa tolerir..

Saya tidak tahan dengan sifatnya yang meledak-ledak, sementara dia tidak tahan dengan sifat saya yang agak-agak ‘slordeh…’ hehehe… Tapi Aza membuat kami lambat laun menjadi lebih menerima kekurangan satu sama lain, walopun -masih- lebih sering nggak nya.. HEHEHE…

Apapun yang terjadi, kami berdua melihat Aza sebagai titipan yang penuh berkah dan hikmah… Anak yang polos dan innocent itu selalu mengingatkan bahwa kami bukan lagi individu yang berdiri sendiri-sendiri… yang hanya mau menang sendiri.. yang hanya memikirkan diri sendiri….
Saat ini sampai seterusnya, mau tidak mau, kami berdua bertanggung jawab penuh terhadapnya…

Tapi Aza ‘membayar’ tuntas semua effort yang kami lakukan untuknya…
Tumbuh kembangnya adalah kejutan bagi kami setiap hari, celotehannya selalu menyegarkan, dan pelukannya…… tak terlukiskan dengan kata-kata… luruh sudah seluruh lelah, sakit, kecewa, ketika tangan-tangan mungilnya memeluk saya dengan sepenuh hati…

One thought on “Guys in My Life

Leave a comment